Catatan Sang Pengembala
Di Pulau Putri
Di Pulau Putri
Sejak kepergian sang ibu menyusul sang ayah ke negeri Siti di awal tahun 85-an, sang pengembala pun waktu itu tinggal bersama sang paman, hari-hari pun dijalaninya, setiap pagi sebelum shubuh sang pengembala harus menyalakan lentera untuk belajar, tak jarang buku belajarnya pun hitam karena asap lentera, bulu mata pun kadang-kadang jadi sasaran, lantas sang pengembala bergegas ke Masjid untuk menunaikan Sholat Shubuh berjamaah bersama anak sang paman, sepulangnya dari masjid sang pengembala harus belajar membaca Al-Qur'an bersama sang paman, tak cukup hanya Al-Qur'an yang di pelajarinya, sang pengembala lantas melanjutkan nyantri belajar membaca & memahami Kitab ma'na Jawi ke rumah sang Kyai sebut saja Langgar bawah pohon asam, bejalar pun usai, bersama santri-santri lain membantu keluarga kyai mencarikan air bersih pergi ke sumber mata air di kaki Gunung yang di sebut warga dengan Gunung Malokok untuk menggotong kaleng bekas minyak goreng yang sudah di rubah bentuk menjadi wadah air bersih untuk di minum keluarga sang Kyai, sepulangnya dari rumah sang kyai sang pengembalapun lantas pulang ke rumah sang paman, tak seperti anak-anak seusianya sang pengembala pagi itupun harus pergi ke kandang kembalanya untuk memberi nya makan di pagi hari sebelum di pindahkan ke sawah, sang pengembalapun bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah terkadang harus terlambat dan meneteskan air mata karena merasa rugi tidak bisa mengikuti mata pelajaran jam pertama, sang pengembala pun berangkat kesekolah SMPN 1 jalan kaki dengan jarak 2 km dari rumah, dengan sepasang sepatu kusam yang diikat di tali pinggang celannya, sambil memindahkan sahabat sejatinya [ lembu kembalaannya ] .......................

bersambung............
